Merajut Kemerdekaan Part-I: “Arrasello, Jalan Menujumu adakah Pemerintah Meliriknya”

by : @adilvakhri



Malam ini saya menulis lanjutan cerita postingan malam kemarin. Masih dalam konteks kemerdekaan dan keadilan seluruh rakyat Indonesia. Kegiatan yang dilakukan oleh komunitas Turun Tangan Lhokseumawe di Arasello kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara terdapat banyak cerita, kenangan, dan juga pengalaman bagi saya. Acara tersebut tidak hanya mengunjungi SDN 25 Sawang, tetapi juga dalam rangka menjalin silaturrahmi dengan masyarakat setempat.



_DSC0186.JPG



Kondisi jalanberbatuan, menanjak, dan berliku adalah hal biasa akan anda temukan jika anda melakukan perjalanan ke desa pedalaman. Begitu juga halnya yang saya alami menuju ke SDN 25 Sawang, bukan hal yang mudah untuk saya lalui. Bahkan teman saya sempat berkata bahwa dia tidak akan ke Desa tersebut kembali. “Sep sigoe nyoe kujak“, Begitulah kata yang terucap dari mulut teman saya dalam bahasa Aceh,yang artinya “Cukup sekali ini saya datang kemari”.

Namun yang terlahir dibenak pikiran saya bukan kata-kata keluhan dari teman saya. Tapi memeikirkan bagaimana akses masyarakat disini untuk menuju ke kota. Sebagaimana kita ketahui jalan merupakan salah satu akses masyarakat menuju ke kota untuk memenuhi kebutuhan dan membawa ahsil pertanian mereka. Kondisi jalan akan sangat suah di lalui pada musim hujan. Menurut anda, masyarakat disini telah merasakan keadilan dan kesejahteraan? Anda dapat menjawabnya pada diri anda masing-masing.



_DSC0023.JPG



Apakah pernah terpikir oleh anda, bagaimana anak-anak ini menempuh jalan yang tidak bersahabat agar sampai ke tempat pendidikan mereka. Mereka adalah calon pemimpin bangsa, sudah sepatutnya mereka mendapatkan pendidikan yang layak agar kelak menjadi pemimpin yang tangguh dan mengabdi kepada masyarakat. Namun usaha mereka dalam menempuh dunia pendidikan tidaklah mudah. Butuh perjuangan yang sangat besar. Melihat perjuangan mereka, rasa syukur tidak lepas dari benakku. Selama ini, begitu mudah akses menuju ke tempat pendidikan.

Perjuangan calon pemimpin bangsa ini tidak hanya melewati jalan yang rusak. Tetapi resiko di serang binatang buas pun dihadapi. Saat saya berkunjung ke tempat ini, kepala desa setempat menjelaskan, bahwa ada seekor beruang yang sedang berkeliaran. Beruang tersebut sedang marah, dikarenakan anaknya di bunuh oleh seekor anjing. Jadi, bukan tidak mungkin beruang tersebut akan menyerang anak-anak yang sedang pergi ke sekolah. Kondisi jalanan pun sangatlah sepi.



_DSC0187.JPG



[ENG]

Tonight I wrote a follow up post story last night. Still in the context of independence and justice for all Indonesian people. Activities carried out by the Turun Tangan Lhokseumawe community in Arasello, Sawang sub-district, North Aceh Regency, have many stories, memories, and experiences for me. The event not only visited SDN 25 Sawang, but also in order to establish friendship with the local community.

The condition of the road is rocky, uphill, and winding is a normal thing you will find if you travel to an inland village. Likewise, what I experienced went to SDN 25 Sawang, not an easy thing to go through. Even my friend had said that he would not return to the village. “Sep sigoe nyoe kujak”, That’s the word that came from the mouth of my friend in the Acehnese language, which means “I just came here once”.

But that was born in the mind of my mind not the words of complaint from my friend. But think about how people access here to go to the city. As we all know, the road is one of the public’s access to the city to fulfill their needs and bring their agricultural ahsil. Road conditions will be very difficult to pass during the rainy season. Do you think people here have felt justice and prosperity? You can answer to each of you.

Has it ever occurred to you, how these children take unfriendly paths to get to their place of education. They are prospective leaders of the nation, it is fitting they get a decent education so that they will become strong leaders who serve the community. But their efforts in taking education are not easy. It takes a very big struggle. Seeing their struggle, gratitude cannot be separated from my mind. So far, access to education is so easy.

The struggle of the future leaders of this nation is not only through a damaged road. But the risk of being attacked by wild animals was faced. When I visited this place, the local village head explained that there was a bear hanging around. The bear is angry, because the child was killed by a dog. So, it is not impossible that the bear will attack children who are going to school. Even the road conditions are very quiet.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *