Akhir Tahun Dua Musim

by: @adilvakhri



Berrr, berr, berrr, berrrr. Itu pertanda akhir tahun telah tiba. September, Oktober, November, dan Desember. Seperti pada akhiran nama-nama bulan tersebut “ber”. Itu berarti jika atap rumah anda bocor harus menahan ember. Ember merupakan suatu benda untuk menampung air. Lantas, mengapa harus menahan ember jika atap rumah bocor ketika bulan tersebut telah tiba? Hal tersebut dikarenakan pada kebiasaannya setiap bulan berakhiran “ber” adalah musim hujan.

Itulah akhir tahun, pada kebiasaannya musim hujan (harus menahan ember). Namun berbeda di akhir tahun 2018 ini. Tidak hanya saja musim penghujan yang dimulai bulan September tahun ini, namun juga di tambah dengan musim kampanye. Ya, setelah KPU menetapkan DCT “Daftar Calon Tetap” dan penetapan awal kampanye Pemilu tahun 2019 pada 23 September 2018. Bisa dikatakan bahwa bulan September 2018 tidak hanya dimulainya musim hujan, tapi juga dimulainya musim kampanye.

Adakah kesamaan antara kedua musim tersebut? Menurut pandangan pribadi saya diantara kedua musim tersebut memiliki kesamaan dampak. Jika dimusim hujan pada biasanya disuatu daerah hujan lebat terjadi secara terus menerus, sehingga dampak yang terjadi pada musim hujan adalah banjir. Contoh di daerah saya yang sering terjadi bencana banjir saat musim hujan adalah daerah Lhoksukon, Matangkuli, dan Pirak Timu. Lalu bagaimana dengan musim kampanye? Musim kampanye biasanya terjadinya banjir janji-janji palsu para calon legislatif. Semoga saja di daerah saya tersebut tidak terjadinya banjir janji-janji palsu para calon legislatif. Kasian masyarakat yang mengalami dua bencana sekaligus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *